› Tanpa label › Kebakaran di Way Kambas Belum Padam, BPBD Siapkan OMC, tetapi Terganjal Pertumbuhan Awan
Dwi
28 September 2026, 12:49 WIB
Last Updated
2026-09-28T05:49:52Z
Kebakaran di Way Kambas Belum Padam, BPBD Siapkan OMC, tetapi Terganjal Pertumbuhan Awan
Lampung, RilisOnline.com - Operasi water bombing belum sepenuhnya menghentikan kebakaran di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Kini, hujan alami mulai diharapkan menjadi bantuan berikutnya untuk memutus bara di kawasan tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung bahkan mulai menjajaki kemungkinan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman.
Namun, rencana tersebut belum bisa langsung dilakukan.
Kepala BPBD Lampung Aswarodi mengatakan, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan dan pertumbuhan awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian.
"Kami sebenarnya ingin mengusulkan OMC. Saya lagi WhatsApp ke BMKG. Sebab, kalau enggak ada awan, ya enggak bisa juga kami OMC. Dia harus ada pertumbuhan awan," kata Aswarodi, dilansir dari kompas.com, Senin (28/9/2026)
Ia mengatakan, BPBD telah meminta analisis kepada BMKG untuk melihat peluang pertumbuhan awan.
Hasil analisis tersebut dijadwalkan diterima pada Senin (28/9/2026).
Lahan Gambut Bikin Api Sulit Padam
Harapan terhadap hujan muncul karena kebakaran berada di lahan yang disebut merupakan gambut.
Penyiraman dari udara memang dapat mengurangi luasan titik yang terbakar, tetapi belum tentu mampu menghentikan bara di bawah permukaan.
"Sudah kami intervensi juga belum tentu dia padam total. Kami berharap juga ada hujan," ujar Aswarodi.
Ancaman meluas juga menjadi alasan mengapa operasi water bombing tidak bisa hanya berkonsentrasi pada satu titik.
Menurut Aswarodi, ketika sebagian area berhasil dipadamkan tetapi titik lain belum tertangani, api berpotensi kembali meluas, terutama jika tidak turun hujan dan kondisi berangin.
"Kalau dia enggak terpisah, rentang waktu yang panjang, apalagi enggak ada hujan, angin, dia melebar lagi," katanya.
OMC Menunggu Kondisi Awan
Kondisi cuaca menjadi tantangan tambahan dalam upaya memadamkan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Nino berada pada intensitas sangat kuat dan memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis.
Analisis BMKG juga menempatkan sejumlah wilayah Lampung dalam kategori peringatan dini kekeringan meteorologis.
Dengan kondisi tersebut, operasi pemadaman di TNWK kini berjalan di dua jalur: mempercepat intervensi melalui udara dan darat sekaligus menunggu peluang cuaca yang memungkinkan OMC dilakukan.
Bagi kawasan konservasi seperti TNWK, persoalannya bukan semata luas lahan yang terbakar.
Kawasan ini merupakan habitat penting gajah Sumatera.
Data yang dikutip Kompas.com menunjukkan sekitar 261 gajah hidup di TNWK, termasuk sekitar 160–180 gajah liar.
Karena itu, pemadaman tidak hanya menjadi upaya menghentikan api, tetapi juga menjaga habitat satwa yang berada di dalam kawasan konservasi tersebut. (*)
Dwi
Caption
Pesan Pembaca
Pesan Pembaca :
Resty
Kami berharap ada liputan mendalam terkait penggunaan dana desa karena realisasi program belum terlihat jelas.
lwan Saputra
Mohon dilakukan peliputan anggaran daerah yang informasinya masih minim agar publik mendapat kejelasan.
Anisa
Kami meminta penyelidikan objektif dana desa agar laporan sesuai dengan kondisi lapangan.
Gunawan
Beberapa proyek desa belum maksimal meski anggaran sudah dialokasikan, perlu penelusuran lanjutan.
Reno
Media independen sangat dibutuhkan untuk mengawal dana desa dan APBD secara transparan.