JAKARTA, RilisOnline.com - Jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan merupakan Surakman alias Sukarman, 60, anak buah kapal (ABK) Arupadatu I yang hilang bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya saat menuju Gunung Anak Krakatau pada 7 September.
Identitas Sukarman dipastikan setelah Tim Disaster Victim Investigation (DVI) melakukan pemeriksaan DNA. Hasilnya menunjukkan kecocokan dengan DNA anak kandungnya, Yayat, menurut keterangan resmi pada Rabu (23/9/2026).
Jenazah laki-laki tanpa identitas itu ditemukan pada Sabtu (12/9/2026) di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, atau pada hari kelima pelaksanaan Operasi SAR. Proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar 10 hari dan hasil pemeriksaan DNA selesai pada Selasa (22/9/2026).
Hingga kini, kapal Arupadatu I dan tujuh orang lainnya belum ditemukan. Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers pada Rabu, mengatakan pihaknya juga belum dapat memastikan apakah kapal tersebut terbawa arus, terendam atau tenggelam ke dasar laut.
"Yang pasti dari sampai dengan sekarang, Arupadatu I, kapalnya tidak ditemukan, sekarang masih hilang, belum ada kejelasan kapal itu ke mana," kata Hengki.
Hengki juga mengatakan belum ada data yang dapat memastikan kondisi tujuh orang lainnya, termasuk lima jurnalis.
LIMA JURNALIS MASIH HILANG
Arupadatu I membawa delapan orang ketika bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menuju Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi gunung tersebut.
Lima jurnalis dalam rombongan itu adalah Muhammad Bagus Khoirunnas, 28, dari ANTARA; Arie Basuki, 52, dari Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, 43, dari iNews; Firdaus Wajidi, 42, dari Anadolu; serta Donal Husni, 51, jurnalis lepas.
Tiga kru kapal adalah Warta, 55, selaku kapten, Sukarman, 60, sebagai ABK, serta Heriyanto, 49, sebagai pemandu.
Salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan titik lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB di perairan antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.
Lokasi ditemukannya jenazah Sukarman di perairan Pulau Enggano berjarak sekitar 360 km secara garis lurus dari Gunung Anak Krakatau.
Operasi SAR terhadap Arupadatu I dilakukan selama 10 hari. Pada hari terakhir, pencarian melibatkan 523 personel dengan area penyisiran mencapai 8.509 mil laut persegi, tetapi tidak menemukan kapal maupun rombongan tersebut. (*)
"Dalansir dari CNA Indonesia, Rabu (23/9/2026)"
